Gangguan mental dan sakit jiwa bisa diakibat karena kecanduan sosial media/media daring?

BISA !

Media daring (dalam jaringan) atau disebut juga dengan istilah media sosial ataupun medsos banyak contoh platformnya. Seperti Friendster (jika anda tahu Friendster berarti anda seusia saya), Facebook, Twitter, Instagram, WhatssApp dan lainnya.

Jika anda menemukan orang (atau menyadari diri anda sendiri) sering mengupdate status yang “alay” atau berlebihan, kenali jenis gangguan kejiwaan yang ditimbulkan karena penggunaan media sosial yang terlalu berlebihan dibawah ini.

Terutama mereka yang sudah dewasa dan tidak lagi diusia labil tapi sangat begitu sering mengupdate/memposting status alay sudah bisa di pastikan memiliki penyakit gangguan mental.

Seringnya penderita gangguan mental memposting status “alay” atau terlalu “over”/berlebihan mengenai hal yang tidak sepatutnya di media sosial bisa juga di karenakan trauma di masa lalu/masa kecil atau hubungan di dalam keluarga yang sedang di jalani tidak harmonis. Sehingga berbagai informasi diluapkan di media sosial.

Beberapa gangguan mental dan kejiwaan yang sering terjadi akibat kecanduan sosial media seperti :

• Obsessive Compulsive Personality Disorder (OCPD)
Obsessive Compulsive Personality Disorder (OCPD) adalah gangguan jiwa ini menyebabkan penggunanya merasa memiliki gangguan berupa pemikiran irasional yang menganggap jika orang lain lebih ceroboh, bodoh, dan tidak berperilaku seperti yang seharusnya. Pernah melihat orang lain sering update status di WhatssApp/Facebook/Twitter menjelek-jelekan orang lain? Nah itu, orang tersebut terkena gangguan jiwa OCPD.

• Munchausen Syndrome
Gangguan jiwa akibat sosial media yang satu ini menggambarkan penderitanya sebagai orang yang hobi mengarang cerita tragis mengenai kehidupannya sendiri untuk mendapatkan perhatian orang lain. Penderitanya akan mengarang cerita apapun untuk mendapatkan perhatian di media sosial dan ia tidak peduli jika apa yang di posting di media sosial tersebut bukanlah merupakan suatu kebenaran. Lama kelamaan cerita tersebut bahkan akan menjadi suatu yang semakin tragis dan ekstrem dengan tujuan mendapatkan sebanyak mungkin perhatian kepada dirinya. Contoh yang sering kita temui adalah orang yang suka bergosip dan mempostingnya di status WhatssApp ataupun Facebook dengan kalimat yang mendramatis. Nah orang tersebut dapat di pastikan terkena gangguan mental jenis Munchausen Syndrome.

• Narcissistic personality disorder (NPD)
Narcissistic personality disorder (NPD) adalah gangguan dengan ciri-ciri sangat mengagumi dirinya sendiri, nggak heran kalau penderita narsistik ini hobinya menyebarkan foto selfie dan mengumbar kebahagiaan pribadinya. Di dunia nyata, penderita NPD ini biasanya bersikap egois, kurang empati dan nggak mau mendengarkan orang lain karena ingin semua perhatian hanya terpusat padanya.

• Body Dysmorphic Disorder (BDD)
Body Dysmorphic Disorder (BDD) merupakan gangguan di mana merasa insecure, takut atau merasa nggak pede kalau ada bagian tubuh yang ia merasa kurang puas. Akibatnya setiap mengunggah foto di sosial media pasti sudah dikurasi dan diedit sedemikian rupa agar terlihat stunning dengan harapan mendapatkan banyak likes dan mendapatkan ketenaran.

• Addiction
Addiction atau ketagihan adalah salah satu gangguan yang juga sering terjadi di antara pengguna sosial media. Ada yang ketagihan mengecek sosial media setiap jam, ada juga yang ketagihan untuk menonton video di YouTube dan berbagai hal lain.

• Social Media Anxiety Disorder (SMAD)
Social Media Anxiety Disorder akan selalu mengecek sosial medianya, saat lagi kerja, lagi makan, atau bahkan hangout dengan teman-temannya. Update status dan foto-foto adalah hal wajib bagi para penderita SMAD ini. Kalau nggak mendapatkan likes atau feedback yang diinginkan, atau bahkan saaat followers-nya berkurang, penderita SMAD ini bakalan ngerasa terganggu.

• Internet Asperger Syndrome
Internet Asperger Syndrome merupakan orang yang pendiam tapi di dunia maya ia biasanya menjadi orang yang sangat bertolak belakang. Kasar, kejam dan senang melontarkan komentar – komentar jahat di postingan orang lain. Demikian sebaliknya.

• Borderline Personality Disorder (BPD)
Borderline Personality Disorder (BPD) yaitu ketakutan, kekhawatiran dan juga gangguan pikiran yang lainnya karena baru saja melihat update-an acara teman yang nggak mengundangnya. Hal tersebut akan mengganggu kehidupannya karena merasa ditolak atau ditinggalkan dalam lingkungannya. Selain BPD, takut kehilangan atau ketinggalan suatu hal juga disebut dengan FOMO, atau Fear of Missing Out.

• Fear Of Missing Out (FOMO)
Fear Of Missing Out (FOMO) adalah merasa sangat cemas jika tidak dapat terhubung dengan akun media sosialnya walaupun hanya untuk sesaat. Sayangnya sebagian orang yang mengalaminya tidak menyadari bahwa mereka menderita gangguan tersebut dan menganggap bahwa perilakunya tersebut merupakan suatu hal yang wajar.

• Low Forum Frustration Tolerance
Low Forum Frustration Tolerance adalah gangguan jiwa yang merasa bahwa dirinya haus akan pengakuan diri dari pengguna media sosial lainnya, sehingga ia akan bersedia untuk melakukan apa saja di media sosial demi pengakuan tersebut.

• Hipokondriak
Hipokondriak adalah salah satu gangguan psikologis ketika penderitanya merasa cemas berlebihan mengenai kesehatan tubuhnya, atau ia selalu merasa dirinya memiliki gejala penyakit serius. Orang ini akan semakin buruk kondisinya karena saat ini ia mudah mengakses informasi beragam penyakit yang ada di media sosial, sehingga memperkuat kecenderungannya untuk merasa cemas akan berbagai penyakit di tubuhnya.

• Compulsive Shopping
Compulsive Shopping adalah tidak keberatan untuk melakukan pembelian secara impuslif untuk berbagai barang yang bahkan nggak dibutuhkan atau bahkan tidak dimampu untuk dibeli. Hanya untuk mendapatkan pujian dan kekaguman dari dunia maya.

• Schizoaffective atau Schizotypal Disorder
Schizoaffective atau Schizotypal Disorder adalah penyakit mental yang menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi, memiliki pikiran yang membingungkan, depresi, dan gangguan ingatan karena terlalu banyak dan sering menggunakan sosial media.

• Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah orang yang selalu gelisah, tidak bisa tenang, sulit fokus terhadap satu kegiatan karena pikirannya mudah teralihkan karena terlalu banyak stimulasi atau rangsangan di media sosial.

• Voyeurism
Voyeurism diartikan sebagai kebiasaan untuk selalu ingin tahu dan merasa penasaran yang berlebihan terhadap pengguna media sosial lainnya.

• Obsessive Compulsive Disorder (OCD)
Obsessive Compulsive Disorder (OCD) bisa dibilang berhubungan dengan perfeksionisme, yaitu keinginan untuk terlihat sempurna setiap saat.  Sering terjadi terutama untuk orang yang selalu memandangi dan mengedit fotonya sebelum diunggah ke sosial media, ketakutan di-tag foto dengan keadaan muka atau penampilan yang memalukan, atau bahkan ketakutan untuk ketinggalan berita terbaru atau tren yang ada di sosial media. 

• Depresi
Depresi karena tertekan secara psikologis dengan berlebihan menggunakan sosial media.

Apakah anda menemukan orang di dengan gejala jenis gangguan kejiwaan seperti yang disebutkan di atas? Atau anda sendiri yang mengalaminya?

Kurangilah kecanduan berselancar di dunia maya. Perbanyaklah aktifitas bersosialisasi di dunia nyata dengan orang yang positif di sekitar anda.

Share ke rekan atau kenalan anda informasi ini agar kita tidak tunduk kepada “robot”.

Sumber :

https://www.shopback.co.id/blog/8-gangguan-mental-dan-kejiwaan-akibat-kecanduan-sosial-media

https://dosenpsikologi.com/gangguan-jiwa-akibat-sosial-media

https://www.kompasiana.com/lestarirahmah/584abb31b793730a32643b59/gangguan-kejiwaan-akibat-pengaruh-sosial-media-di-kehidupan-masyarakat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *